Powered By Blogger

Selasa, 26 Maret 2013

Musikalitas dan Leadership

Suatu pandangan teoritik terhadap Marching Percussion Indonesia “The common problems of this two bands are leadership” (Jonathan Fox; ketika membuka komentar di saat masa komentar babak final drumbattle DMC 2009 antara The Beaters Vs BC) Setiap acara besar marching band seperti GPMB dan DMC, pasti tersisa makna positif yang bisa dipetik. Belum lama GPMB 2008 dan DMC 2009 berakhir, tetapi menurut pandangan saya begitu banyak ilmu yang bisa diserap dari kegiatan ini. Dalam hal ini saya lebih membahas ke masalah ilmu marching band. Semua pembahasan dalam artikel kali ini berangkat dari kutipan komentar Jon Fox. SKILL ADALAH SEGALANYA Leadership yang dimaksud Jon Fox disini lebih ke organisasi musik, alias komposisi musik. Seperti umumnya pandangan para perkusionis marching Indonesia, skill adalah segalanya. Dan tidak bisa dipungkiri ada orang-orang yang menstratakan tingkat skill sesuai dengan alat yang dipegangnya. Biasanya sesuai urutan yang paling atas adalah, Snare Drum, Tenor, Bass Drum dan yang paling bawah adalah marching cymbal. Banyak orang yang akan bangga sekali bila ditempatkan di snare drum atau merasa sebaliknya bila ditempatkan di marching cymbal. Tetapi kita harus memahami dulu definisi dari skill tersebut. Skill atau keahlian menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah kemampuan yang mendalam terhadap bidang tertentu. Disini tertulis kemampuan yang mendalam, yang berarti kalo kita hubungkan dengan konsep marching band adalah pengetahuan mendalam dari segala aspek baik musikalitas maupun visual tidak hanya pengetahuan rudimental semata. Pada dasarnya skill musik pada marching percussion terdapat dalam beberapa aspek , dalam hal ini saya berasumsi semua unit mempunyai skill rudimental yang sama rata. Beberapa diantaranya : Efektifitas skill tersebut Jim Casella pernah bercerita tentang bagaimana dia dulu menyeleksi penempatan snare drum di Santa Clara Vanguard. Konsep dasarnya adalah dia tidak perduli seberapa banyak not, rudiment dan visual yang kalian peragakan tapi kalau itu diluar konteks musikal, ‘it’s nothing’. Penempatan Terkadang kita ingin mengeluarkan semua skill dan kemampuan kita pada seluruh lagu, tetapi bila berada di tempat yang salah, maka skill itu tidak akan bersinar. Dalam hal ini kita harus kembali pada konsep dasar; musikalitas. Skill yang baik dapat maksimal pada tempat yang tepat saja. Konsepnya kembali ke sifat dasar alami manusia, yang bila ‘terlalu’ akan jadi tidak menarik. Berarti ‘terlalu’ banyak skill yang ditonjolkan maka secara alami itu tidak akan jadi menarik alias monoton. Penempatan ini juga berhubungan dengan posisi display. Bagaimana mungkin skill cymbal akan dilihat juri kalau dia berada di belakang bass drum. Keseragaman materi skill antar section Dalam hal ini sangat penting untuk pelatih menyeragamkan skill semua lini agar tidak terjadi ketimpangan sehingga harmonisasi tercipta. Pada dasarnya semua berangkat dari snare drum yang match grip, setelah dipecah ke beberapa seksi, maka masing-masing mengembangkan keahliannya di seksi masing-masing. Paradigma snare drum adalah yang paling hebat membuat stagnansi kemampuan alat di seksi lain seperti tenor, bass drum dan marching cymbal. JURI Nah, dalam pandangan saya skill memang segalanya, tapi skill yang bagaimana yang segalanya? Skill yang mencakup semua aspek diatas. Bukan hanya skill rudimental yang tak terkonsep ataupun skill yang hanya membela ego orang tertentu bukan kepentingan tim. Bila hanya snare drum yang beraksi terus menerus memamerkan skill-nya berarti secara tim mereka gagal. Hal seperti ini sering terjadi di dunia per-marching band-an Indonesia. Suatu tim bisa mendapat nilai perkusi tinggi sekali hanya karena snare drum-nya sangat menonjol dalam segi skill rudimental. Kemampuan skill snare drum yang menakjubkan tersebut membuat seksi lain seperti tenor, bass drum, cymbal dan pit section tertutupi atau tidak begitu diperhatikan untuk dinilai. Begitu juga sebaliknya. So pathaetic that kind of judge!(James Ancona) Pandangan juri yang seperti ini yang membuat stagnansi seksi lain. Karena seksi lain kurang dievaluasi. Akibatnya kepentingan tim perkusi secara utuh tidak begitu dihargai, dan ini sangat melenceng dari konsep dasar musikal dan bisa sangat berpengaruh buruk terhadap perkembangan tim perkusi yang seharusnya satu kekuatan yang solid tanpa ada ego skill antar seksi. Juri sangat berperan penting dalam pemahaman paradigma perkusi yang musikal dan berkualitas. Namun terkadang perkembangan pengetahuan juri kalah oleh peserta yang dinilainya. MUSIKALITAS Setelah pemaparan beberapa aspek diatas, ada satu benang merah diantaranya, yaitu musikalitas yang ensemble dan harmonis. Musikalitas tercipta dari kematangan konsep dan komposisi musik. Komposisi musik yang baik tercipta dari beberapa aspek juga, yaitu: Yang mempunyai alur cerita dan kerangka komposisi yang teratur Komposisi dasar biasanya mempunyai, intro, isi lagu, jembatan transisi, reff., closer. Tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan pesan lagu dan konsep dengan baik dan jelas. Penggambarannya seperti ini : Bila ada seseorang menyerang kita secara mendadak tanpa basa basi, kita otomatis akan bersikap bertahan dan penasaran disaat penyerangan terjadi. Akibatnya adalah penyerangan tersebut hanya terasa pada saat itu saja tanpa dikenang lama, dan mental penasaran kita akan terkumpul untuk melakukan serangan balik. Tetapi bila kita menyerang dengan konsep dan komposisi yang jelas, maka serangan itu akan dikenang lama karena kita memainkan mental dan emosi lawan, sehingga serangan itu menancap di hati. Yang bisa menciptakan efek suara atau mempertahankan efek suara Originalitas sangat dihargai dalam aspek ini. Ide adalah sesuatu yang tidak bisa dihargai hanya dengan nilai materi. Bila efek suara tercipta dan bisa dimengerti dengan jelas hanya dengan menggunakan peralatan marching percussion menurut saya itu sangat original. Contohnya, suara gendang, suara pukulan, tembakan, suara besi berderit, suara rel, suara beatbox dan lain sebagainya. Efek suara ini berperan sangat penting dalam pencapaian emosional pada efek musik. Komposisi perkusi yangmerupakan perpaduan antara rhytmitik dan melodius juga berperan penting dalam kenyamanan pendengar sehingga akhirnya tercipta efek musik yang berkesan. Organisasi music yang saling bersinergi Kata lainnya adalah harmonisasi antar seksi sehingga tercipta ensemble yang berkesan. Dalam hal ini keterlibatan antar seksi dimaksimalkan seimbang. Tidak ada yang menonjol sehingga menjadi satu kesatuan yang kuat dalam menggempur lawan. Yang ditonjolkan adalah kekuatan tim. Klimaks Lagu yang baik adalah yang mempunyai klimaks agar emosi yang penasaran tadi dapat mendapatkan jawaban dan puas. Klimaks sering disalah artikan sebagai closer, atau disalah artikan sebagai sesuatu yang berakhir keras dan megah. Klimaks adalah sesuatu yang merupakan jawaban dari gejolak penasaran emosi penonton tadi. Sesuatu yang bisa membuat emosi sedikit lega. Sesuatu yang cukup kuat dirasakan dalam bagian lagu. Klimaks bisa berdinamika keras ataupun lembut. Klimaks biasanya terdapat diantara 2/3 dari lagu. Sedangkan Closer atau sisa dari 2/3 tadi adalah penegas klimaks. Musik yang baik dan bisa dinikmati biasanya mempunyai klimaks di antara 2/3 lagunya. Coba perhatikan! Terutama musik klasik yang melegenda. Tension Bow Dalam menciptakan satu komposisi kita harus memikirkan untuk memainkan emosi penonton. Ini diperlukan agar tidak terjadi monoton dalam satu komposisi. Untuk itu sesuai dengan kerangka lagu, kita harus masukkan tipe aransemen yang sesuai dengan grafik tensinya. Pengulangan tensi yang sama akan memicu kemonotonan. Caranya adalah berbekal kerangka lagu, kita harus langsung buat grafik tensi, sehingga emosi penonton terus bergejolak dan penasaran karena mendapatkan tensi yang berbeda tiap bagiannya. Tension bow sangat berguna untuk mewujudkan aspek-aspek diatas. LEADERSHIP Setelah memahami pemaparan diatas baru kita bisa mengerti sekali apa maksud dari komentar Jon Fox . Marching Percussion adalah alat musik. Jadi mainkanlah dengan musikalitas yang baik agar namanya tetap menjadi alat music. Konsep musikalitas diatas harus diterapkan dalam membuat komposisi Marching Percussion, baik di individual contest, drumbattle, percussion contest maupun bermain secara full team. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitan tersendiri, tergantung bagaimana kita menyikapinya secara konsep-konsep dasar musikal tidak hanya sekedar kemampuan rudimental. Peran pembuat materi sangat tinggi disini. Leadership : Dalam suatu pagelaran batterie percussion kendali utama dibagi rata ke setiap seksi untuk menonjolkan harmonisasi tim. Konsep dasarnya adalah mengenyampingkan ego antar seksi . Maksud kendali utama adalah, ada saatnya bass drum yang beraksi dan seksi lain menjadi pendukungnya, ada saatnya tenor yang menyerang dan seksi lain back up, begitu seterusnya. Keadaan ini dirancang sedemikian rupa dengan konsep yang matang berdasarkan teori dasar musikalitas tadi. Itu yang terbaik. Dengan menghilangkan strata skill di batterie percussion maka siapa aja bisa menjadi pemimpin dalam satu pagelaran. Dan pada akhirnya komunikasi antar seksi akan tercipta sehingga koordinasi pun lancar. Keterlibatan antar seksi juga adil dan merata, dan pada akhirnya yang menentukan terbaik antar tim bukanlah masalah ‘sepele’ seperti leadership, skill, visual, dan lain sebagainya, tetapi adalah eksekusi di lapangan. Yang bisa memunculkan efek musik dan visual secara konstan, yang bisa mempertahankan grafik, konsep dan alur lagu, yang bisa menjaga emosi tapi stabil membuat emosi lawan atau penonton bergejolak, yang bisa mendapatkan klimakslah yang terbaik. Mungkin langkah awal yang bisa kita lakukan adalah : 1. Pahami lagi konsep skill dan musikalitas 2. Jangan terpaku hanya kepada snare drum saja dalam exploitasi ego skill. 3. Pahamilah! Setiap seksi mempunyai keunikan skill masing-masing yang bisa dieksploitasi secara mengesankan. 4. Lebih digali lagi pengetahuan terhadap seksi yang lain dengan syarat tidak boleh anggap remeh terhadap seksi yang lain. 5. Jangan beralasan karena pelatih adalah mantan pemain snare drum sehingga exploitasi snare drum terjadi. 6. Jangan beralasan karena hanya paham dan nge-fans dengan snare drum, seksi lain jadi kurang diperhatikan dalam memaksimalkan ilmu dan skillnya. 7. Mainkanlah Marching Percussion-mu sebagai alat musik dan sesuai dengan konsep dasar musik bukan sebagai alat untuk menunjukkan ego skill rudimentalmu. Demikianlah pemaparan ini sebagai suatu pandangan saya terhadap keadaan perkusi Indonesia. Pandangan ini merupakan kumpulan hasil dari obrolan dengan orang-orang hebat di bidang perkusi maupun musik secara keseluruhan, diantaranya : Jonathan Fox, Kosin, James Ancona, Jim Casella, Ralph hardimon, Andy Dougharty dan Eric Awuy. Semoga dapat berguna!! Keep on Music!! Viva Marching Band Indonesia!!

Tips memilih tema marching band

Setelah rasa capek yang berlebihan, senang, sedih, haru dan bangga atas anak didiknya yang telah berlaga di sebuah pertandingan maupun penampilan marching band, kini giliran pelatih, pengurus dan pemberi materi yang mulai pusing memikirkan langkah apa yang akan dilakukan tahun depan. Dan setelah melihat banyak band yang bertanding saat itu, maka bertambah pusinglah pelatih, “Paket itu sudah dimainkan band lain, paket yang saya pikir jauh-jauh hari, sudah dimainkan juga, mau mainkan apa lagi yah?” Lalu bagaimana membuat dan menyiasati sebuah bentuk paket penampilan yang efektif namun menarik? Biasanya hal ini merupakan ‘dapur’ masing-masing pelatih kepada bandnya, karena terkadang rahasia kesuksesan suatu band bergantung pada ‘ide dan kreatifitas’-an pemberi materi ini, termasuk saya. Namun apalah gunanya menyembunyikan sebuah ilmu, yang kelak akan ditinggal mati oleh orangnya. Alangkah baiknya menyebarkan ilmu sebanyak-banyaknya kepada khalayak ramai yang berguna untuk memajukan per-marching band-an. Bethul tidhak? (dengan gaya aa’ Gym…) Di Amerika, ilmu menciptakan suatu pagelaran marching band sudah dibukukan dalam berbagai buku pendidikan musik dan marching band. Ada banyak cara dan pedoman dalam merangkai suatu tema pagelaran marching band. Salah buku favorit saya karya Wayne Bailey berjudul “The Complete Marching Band Resource Manual”, dijelaskan banyak mengenai persiapan sebuah marching band menghadapi sebuah penampilan dan pertandingan. Salah satu faktor terpenting adalah menyeleksi musik yang akan dimainkan. Tidak semua musik dapat cocok dimainkan oleh marching band. Sebaiknya ambil lagu yang mempunyai form ABA atau AB. Biasanya dalam puisi atau sajak, banyak memakai istilah ini, sama juga dengan sebuah lagu, dimana A dapat diartikan Verse 1, B diartikan Reffrain (Reff). Apabila lagu tersebut mengikuti standar format ini, maka dengan mudah dapat direproduksi ke lagu marching band. Format AB dapat dengan mudah ditranskripkan ke marching band, dimana polanya dapat berubah menjadi format klimaks di aransemen marching band. Format tersebut bisa berbeda dengan lagu aslinya, sepanjang benang merah lagu tersebut masih ada. Faktor lain dalam memilih lagu adalah, cari di melodi lagu tersebut yang kira-kira dapat menjadi sebuah frase yang klimaks, baik bernuansa kuat dan keras, atau bahkan lembut sekali. Sehingga penggubah lagu dengan mudah mentranformasikan lagu tersebut ke dalam bentuk aransemen marching band. Sang pembuat display pun akan begitu mudah memvisualisasikan gerakan dan konfigurasi display sesuai dengan lagu tersebut. Semua melodi lagu harus mempunyai efek dan emosi secara klimaks (Bailey, 1994). Namun, kebanyakan di lagu-lagu pop sekarang ini, jarang sekali dijumpai melodi yang demikian, sehingga menuntut sang arranger untuk berpikir lebih keras lagi bagaimana mengangkat lagu itu. Setelah mendapatkan gambaran tentang lagu-lagu yang akan dimainkan, tugas arranger selanjutnya adalah bagaimana merangkai semua lagu tersebut ke sebuah tema penampilan. Menurut saya, disinilah letak kreatifitas dan keahlian seorang arranger. Apakah semua lagu tersebut mempunyai benang merah yang sama, sehingga dapat dihubungkan satu sama lain? Apakah lagu-lagu tersebut berkonotasi keras semua, atau lembut semua? Dan apakah melodi-melodi dalam lagu tersebut dapat ditukar-tukar ke setiap lagu, atau dijadikan sebuah Introduction dan Ending sebuah pagelaran? Semua ini membutuhkan pemikiran serius. Sebuah pengalaman menarik, saat saya membuat tema MBUI tahun 2002 mengikuti GPMB, satu hal yang menjadi trigger saya saat itu, adalah bahwa banyak sekali band-band saat itu yang memainkan lagu-lagu DCI dengan transkripsi. Itupun terkadang meniru habis sampai ke display dan pakaiannya. Hal ini membuat saya berpikir untuk ‘mengalihkan’ perhatian ‘DCI-maniac’ kembali menjadi ‘Indonesian-maniac’. Ketertarikan ini ditambah lagi dengan keikutsertaan saya dalam Daya Big Band, pimpinan Prof. Deviana Daudsjah, yang hampir semua repertoire-nya bernuansa lagu daerah. Nah, disini tantangannya. Disaat semua orang mendapat ide dan meniru DCI, tanpa memikirkan benang merah tema, saya harus menyusun lagu-lagu daerah, yang konon susah untuk di gabungkan dalam sebuah pagelaran marching band yang dinamis. Namun tekad saya bulat untuk mengubah animo masyarakat marching band di Indonesia. Mengikuti acuan Wayne Bailey, sayapun membuat suatu grafik pagelaran, berisi garis linear pembentuk karakter dan emosi lagu untuk satu paket. Dari keempat lagu yang akan dimainkan, semuanya harus mempunyai karakter dan emosi yang kontras satu sama lain, agar grafiknya tidak lurus horisontal. Saat itu, saya mulai dengan lagu “Sing-sing So ala bolero” yang bernuansa hening dan pelan, hanya suara snare drum. Berpedoman pada benang merah bolero yang berangsur-angsur keras sampai klimaks dan megah, maka lagu daerah batak ini saya buat sama. Maka jadilah sebuah lagu daerah yang khas namun menggugah. Dr. Steven Grimo menjelaskan, bahwa lagu pertama sebuah pertunjukan harus mendapat kesan “Welcome to our performance!” (Whaley, 2005). Berkesan dan berciri khas merupakan pesan yang harus disampaikan di lagu pertama. Tantangan berikutnya adalah bagaimana dengan lagu selanjutnya? Mau saya apakan benang merahnya? Mudah saja, setelah lagu satu diakhiri dengan klimaks yang keras, maka lagu 2 dapat kita santaikan lagi, mengingat tenaga para pemain sudah terpakai habis saat ending lagu satu, maka kita sebagai arranger, ‘menyiapkan’ lagi tenaga mereka di lagu selanjutnya dengan memulainya dengan antiklimaks. Lagu Gundul-gundul pacul dipilih, bernuansa jazz swing yang ringan, namun terasa enak di telinga. Penonton pun dibuat menikmati lagu ini agar dapat mengikuti tema yang kita buat, ditambah percussion feature penambah greget lagu gundul-gundul pacul. Sedikit ‘bandel’ dengan keadaan, saya masukkan interlude ilir-ilir, dimana hanya pit percussion yang bermain, sembari pemain brass dan battery beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk menghentak di lagu ke 4. Puas dengan irama yang tenang, mari kita pacu lagi dengan penampilan yang lebih kencang, keras, dan dinamis. Kompilasi lagu jawa barat dipilih antara lain ‘es lilin dan pileuleuyan’. Nada-nada berkonotasi minor membuat saya berani menggabungkan dengan lagu klasik, agar lebih tegas dan kaku. Lagu pileuleuyan melanjutkan irama lagu ini dengan ‘menabrak’ tempo cepat 150 dengan irama syahdu dengan tempo 85 (ide saya ambil dari lagu 3 Blue Devils tahun 98). Lagu kelima, sebagai lagu pamungkas harus dibuat berbeda dan merupakan kompilasi dan klimaks dari pertunjukan ini. Namun disaat melihat lagu 4 dengan penuh irama keras dan menghentak, sudah waktunya untuk membawa tema ini ke nuansa antiklimaks. Dengan ‘berkedok’ lagu yamko rambe yamko dan cuplikan dari berbagai lagu sebelumnya, dan diikuti dengan sepenggal sing-sing so ala bolero, berangsur-angsur pelan dan lembut dan diakhiri dengan seorang pemain snare drum ditengah lapangan, tanda pagelaran telah usai. Kalau dilihat dari grafik tema, akan terlihat seperti ini: Ilustrasi grafik tema dengan skala bebas. Masih banyak lagi kreatifitas yang bisa diambil dari grafik ini, lagu-lagu yang dipilih sesuai dengan ‘hati nurani’ pelatih, benang merah antar lagu, dan emosi yang diharapkan timbul dari penonton yang mendengarkan. Terus terang, paket ini merupakan salah satu paket yang terpuas yang pernah saya buat dengan MBUI. Jadi, apakah sudah ada tema untuk pertandingan tahun ini? Kita lihat saja nanti… Marbo *Staff pengajar Binus Business School, Jupiter Indonesia Endorser. Referensi: Bailey, Wayne, The Complete Marching Band Resource Manual, University of Pennsylvania Press, 1994 Whaley, Garwood., The Music Director’s Cookbook: Creative Recipes for a Successful Program, Meredith Music Publication, 1st ed, USA, 2005

Materi Dasar Pengajaran Perkusi Marching Untuk Pemula

Pada tulisan ini saya akan membahas bagaimana mempersiapkan materi pengajaran untuk pemain yang sangat baru dan awam tentang perkusi Marching. Tulisan dibawah ini : Bersifat umum tanpa detail materi karena saya percaya masing-masing instruktur lebih mengerti materi kebutuhan unitnya masing-masing. Bersifat ke rencana kerja agar efektif dalam pencapaian keahlian bermain yang diinginkan. Diperuntukan bagi para pemula yang telah dipilih maupun yang lolos audisi oleh instrukturnya untuk masuk perkusi Marching Tidak berdasarkan teori tertentu maupun ketetapan tertentu, tetapi hanya berdasarkan dari hasil kesimpulan pengalaman 10 tahun terakhir dalam mengajar berbagai macam band yang baru lahir di berbagai tempat di Indonesia. Jadi tulisan ini bersifat berbagi pengalaman saya dalam menghadapi band yang baru lahir yang mungkin bisa membantu rekan instruktur Marching Band Indonesia dalam menghadapi para pemula di perkusi Marching. Berikut adalah langkah-langkah pengajaran efektif untuk pemula. A. Teori Dasar Perkusi Marching. - Tujuan : Diharapkan para pemula akan lebih mengerti konsep tentang perkusi Marching, instrumen dasar dan sikap bermain secara keseluruhan. Diharapkan pada akhir materi ini para pemula akan mempunyai motivasi lebih besar dalam mendalami ilmu perkusi Marching. - Materi : Sejarah singkat perkusi Marching (filosofi dasar) Sikap dalam perkusi Marching (attitude bermusik) Pengenalan masing-masing alat meliputi fisik (bentuk, berat, dan point keunggulannya), warna suara dan demo cara memainkan yang benar untuk masingmasing alat agar suara yang benar bisa dikenalkan. Demo pit dan battery Demo perkusi penuh - Durasi : Satu kali latihan penuh. (Min. 2 Jam) B. Teori Musik Dasar - Tujuan : Teori musik sangat penting kepada pemula. Dengan mengerti teori dasar musik diharapkan si pemula akan lancar sight reading dan bisa belajar mandiri tanpa harus didikte. - Materi : Dasar Not Pengenalan Birama Pengenalan harga not dengan contoh pohon not Variasi not 1/8 dan 1/16 Latihan baca variasi not Latihan baca variasi not dengan variasi tempo dan mark time - Durasi pengajaran Diberikan setelah langkah A telah dilewati. Diberikan dalam 2 kali pertemuan masing2 45 menit tiap 3 point. Dilatih terus dengan memberikan materi pemanasan tertulis dari staff pelatih. C. Gripping (Cara Pegang) - Tujuan : Diharapkan pemula mengetahui cara dasar memegang stick dengan benar dan membiasakannya. - Materi : Pengetahuan umum tentang cara Match Grip dengan variannya dan Traditional Grip Match Grip yang dipakai dan detail Traditional Grip - Durasi Pengajaran Diberikan setelah langkah A dan B telah dilewati. Satu kali pertemuan satu latihan penuh Konsisten tiap latihan materi dasar untuk menjaga cara memegang dengan benar. D. Stroking (Cara Pukul) - Tujuan : Diharapkan pemula memahami cara memukul perkusi yang efektif dalam penggunaan anatomi tubuh - Materi : Pemahaman dasar otot yang digunakan dan penerapannya Single Stroke satu tangan (8-8 dan 8-8-16 atau sejenisnya) Single Stroke dua tangan (Timing not 1/16) Pulse (Nadi) Double Stroke (Variant Diddle) Gabungan variasi single stroke satu dan dua tangan Gabungan variasi single satu dan dua tangan dan Pulse Gabungan variasi single satu dan dua tangan, Pulse dan Double Stroke Dinamika dan ekspresi - Durasi : Diberikan setelah langkah A, B dan C dilewati. Seluruh materi satu bulan penuh Perkiraan total durasi pertemuan untuk keseluruhan materi dasar ini adalah dua bulan dengan asumsi latihan dilakukan dua kali dalam seminggu yang tiap latihannya memakan waktu efektif kurang lebih dua jam. Setelah materi dasar ini dilewati dengan baik maka si pemula akan bisa ditempatkan di alat mana pun baik di pit maupun battery. Demikianlah teori dasar yang wajib dikuasai dengan baik dan benar oleh para pemain Marching yang masih baru. Jika materi dasar ini matang maka pencapaian keahlian bermain untuk tahap berikutnya akan terasa lebih mudah dan sangat efektif dalam pencapaian target teknisnya di masing-masing alat. Terima Kasih, Nimon (Program Director Madah Bahana Universitas Indonesia)
Virus.. Makhluk menakutkan dari dunia digital yang kerjaannya merusak dan menghancurkan data. Emang repot gan kalo perangkat kita sudah terinfeksi oleh yang satu ini. Salah satu perangkat elektronik yang riskan terinfeksi virus adalah flash disk, terutama bagi yang flash disknya suka jajan (berganti-ganti pasangan), hehehe.. Nah untuk melindungi flash disk dari virus ada sedikit tutorial untuk membuat flash disk agan kebal terhadap virus.. Mau coba ?? Ayo langsung praktek : 1. Buatlah sebuah folder dalam flash disk agan, beri nama “autorun.inf” (tanpa tanda kutip). 2. Di dalam folder yang baru saja agan buat tadi, buatlah sebuah dokumen notepad. Untuk membuatnya klik kanan, pilih NEW, TEXT DOCUMENT, dan berikan sembarang nama (apa saja) untuk file yang agan buat tadi. Nama ini nantinya akan kita ganti dengan beberapa karakter khusus. 3. Setelah itu, buka program CHARACTER MAP yang ada di START, ALL PROGRAMS, ACCESORIES, SYSTEM TOOLS, dan CHARACTER MAP. 4. Setelah CHARACTER MAP terbuka, pilih font yang embel2nya Unicode, seperti Arial Unicode atau Lucida Sans Unicode. Scroll kebawah sampai agan melihat huruf2 Jepang, Korea, Cina, ato karakter2 yang aneh. 5. Pilih 4 atau 5 karakter yang agan inginkan, trus klik copy. 6. Ubah nama ato rename file teks yang telah agan buat pada langkah ke-2 diatas. Klik kanan pada file tersebut, pilih rename, selanjutnya tekan [CTRL] + [V]. Jangan kaget bila nantinya agan akan melihat karakter berbentuk tanda kotak2 saja. Ga papa kok, itu normal kok. 7. Selesai... Mungkin agan agan semua bertanya2, kok bisa cara sesederhana itu, dan flash disk kita kebal virus?? Begini, Windows ga akan terima kalo ada 2 file yang mempunyai nama yang sama. Nah, karena di flash disk kita uda ada nama autorun.inf, file lain ga boleh lagi pake itu nama. Istilahnya sudah di hak patenkan, jadi, ga bisa di pake oleh yang lain.. Dengan begitu virus udah ga bisa pake nama autorun.inf lagi Lho, kalo ga bisa dipake, kan virus bisa menghapus sendiri file itu ? Trus buat lagi deh autorun.inf yang sesuai sama maunya itu virus ?? Nah, itulah gunanya file teks yang kita buat pake nama aneh tadi. Nama2 aneh itu dianggap virus sebagai karakternya Windows, padahal itu kan karakter unicode. Dan virus sendiri rata2 belum mendukung karakter unicode itu.

Mengembalikan Menu Pada Task Manager

Beberapa dari sahabat-sahabat saya ini mungkin pernah menemui ketika mencoba membuka taks menager kemudian bingung karena pada windows Taks Manager menu menu seperti application, Processes, performance atau Networking hilang begitu saja, seperti yang saya alami. Apabila anda kesulitan untuk menapilkannya kembali munkin tips dari saya ini bisa membantu anda. Untuk mengembalikan menu pada windows Taks Manager sangatlah mudah. Anda tinggal menghapus salah satu register yang ada di regedit. Berikut langkah langkahnya : 1. Klik menu “Start | Run” lalu ketikkan “Regedit” dan tekan “OK”. 2. Masuklah ke dalam entry “HKEY_CURRENT_USER | Software | Microsoft | Windows NT | CurrentVersion”. 3. Ada banyak key yang memiliki fungsi berbeda-beda. Di antara key-key tersebut, klik key “TaskManager” lalu tekan “Delete”. Setelah itu, tutup registry editor dan restart PC Anda. 4.Cek lagi tampilan menu yang ada pada Taks Manager sudah kembali normal.

ASAL MULA VIRUS

ASAL MUASAL VIRUS Virus komputer pertama kalinya tercipta bersamaan dengan komputer. Pada tahun 1949, salah seorang pencipta komputer, John von Newman, yang menciptakan Electronic Discrete Variable Automatic Computer (EDVAC),memaparkan suatu makalahnya yang berjudul “Theory and Organization of Complicated Automata”. Dalam makalahnya dibahas kemungkinan program yang dapat menyebar dengan sendirinya. Perkembangan virus komputer selanjutnya terjadi di AT&T Bell Laboratory salah satu laboratorium komputer terbesar didunia yang telah menghasilkan banyak hal, seperti bahasa C dan C++.1 Di laboratorium ini, sekitar tahun 1960-an, setiap waktu istirahat para peneliti membuat permainan dengan suatu program yang dapat memusnahkan kemampuan membetulkan dirinya dan balik menyerang kedudukan lawan. Selain itu, program permainan dapat memperbanyak dirinya secara otomatis. Perang program ini disebut Core War, yaitu pemenangnya adalah pemilik program sisa terbanyak dalam selang waktu tertentu. Karena sadar akan bahaya program tersebut, terutama bila bocor keluar laboratorium tersebut, maka setiap selesai permainan, program tersebut selalu dimusnahkan. Sekitar tahun 1970-an ,perusahaan Xerox memperkenalkan suatu program yang digunakan untuk membantu kelancaran kerja. Struktur programnya menyerupai virus, namun program ini adalah untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dan pada waktu yang bersamaan dua tugas dapat dilakukan. Pada tahun 1980-an, perang virus di dunia terbuka bermula atas pemaparan Fred Cohen, seorang peneliti dan asisten profesor di Universitas Cincinati, Ohio. Dalam pemaparannya, Fred juga mendemonstrasikan sebuah program ciptaannya, yaitu suatu virus yang dapat menyebar secara cepat pada sejumlah komputer. Sementara virus berkembang, Indonesia juga mulai terkena wabah virus. Virus komputer ini pertama menyebar di Indonesia juga pada tahun 1988. Virus yang begitu menggemparkan seluruh pemakai komputer di Indonesia, saat itu, adalah virus ©Brain yang dikenal dengan nama virus Pakistan. PENGERTIAN VIRUS "A program that can infect other programs by modifying them to include a slighty altered copy of itself. A virus can spread throughout a computer system or network using the authorization of every user using it to infect their programs. Every programs that gets infected can also act as a virus that infection grows“ ( Fred Cohen ) Pertama kali istilah “virus” digunakan oleh Fred Cohen pada tahun 1984 di Amerika Serikat. Virus komputer dinamakan “virus” karena memiliki beberapa persamaan mendasar dengan virus pada istilah kedokteran (biological viruses). Virus komputer bisa diartikan sebagai suatu program komputer biasa. Tetapi memiliki perbedaan yang mendasar dengan program-program lainnya,yaitu virus dibuat untuk menulari program-program lainnya, mengubah, memanipulasinya bahkan sampai merusaknya. Ada yang perlu dicatat disini, virus hanya akan menulari apabila program pemicu atau program yang telah terinfeksi tadi dieksekusi. Virus yang terdapat pada komputer hanyalah berupa program biasa, sebagaimana layaknya program-program lain. Tetapi terdapat perbedaan yang sangat mendasar pada virus komputer dan program lainnya. KRITERIA VIRUS Suatu program dapat disebut sebagai suatu virus apabila memenuhi minimal 5 kriteria berikut : 1. Kemampuan untuk mendapatkan informasi 2. Kemampuan untuk memeriksa suatu program 3. Kemampuan untuk menggandakan diri dan menularkan diri 4. Kemampuan melakukan manipulasi 5. Kemampuan untuk menyembunyikan diri.

Mengenal Marching Band


Mengenal Marching Band

Sejarah Singkat Lahirnya Marching Band

Konon Marching Band lahir pada paska Perang Dunia ke II. Kegiatan Ini bermula dari prakarsa para Veteran PD II. Untuk mengenang Patriotisme mereka,bersama generasi muda yang ada dilingkungannya mereka membentuk korps musik dengan memainkan lagu lagu mars nostalgia perang Dunia ke II sambil berparade keliling Kota pada acara – acara Ceremonial maupun Celebration. Pada awalnya kegiatan ini diberi nama Military Band yang kemudian seiring perkembangannya berganti nama Marching Band hingga sekarang.

Berawal dari kegiatan inilah Marching Band kian berkembang dan menjadi kegiatan yang sangat positif yang melibatkan para pemuda dan tidak terbatas pada kegiatan PARADE saja, Marching sudah merupakan jenis entertain musical show yang kaya akan warna warni artistikal, baik musical maupun Visual. Oleh karenanya mereka tidak terbatas memainkan lagu – lagu mars tetapi juga lagu pop,Jaz, bahkan lagu – lagu klasik dan opera kini merupakan bagian dari program musical mereka. Dan hingga kini kegiatan Marching terus berkembang dalam sampai pada tingkat / lembaga pendidikan dasar mulai dari TK, SD sampai pada tingkat Instansi Pemerintahan dan Swasta.

Definisi Marching Band

Marching Band artinya “ Musik Bergerak “ atau “ Musik Berjalan “ . dengan demikian Marching Band adalah kegiatan seni Musik atau musical activity.

Keseluruhan kegiatan Marching Band dibagi dalam 2 bagian pokok yakni Musical dan Visual.
  1. Musical  
kelompok alat perkusi dan kelompok alat tiup. Kelompok ini merupakan kelompok  Melodi karena menghasilkan nada nada musik.
  1. Visual
Kelompok Colour Guard, kelompok ini memberikan nuansa gerak tari dan koreografi yang sangat lekat dengan musik yang dimainkan sehingga menjadi perpaduan yang dinamis.

Keduanya merupakan satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bila kita lihat aktivitasnya dari dekat , tata cara yang dilakukan maupun seragam yang digunakan, Apa yang dapat kita lihat manfaat dari kegiatan Marching Band ?